Jumat, 22 Februari 2019

KEMENDAG SERTIFIKASI 5 PASAR RAKYAT PADA TAHUN 2019


 


Kementerian Perdagangan akan melakukan sertifikasi terhadap lima pasar rakyat agar bisa memiliki Standar Nasional Indonesia (SNI) pada tahun 2019 ini. Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Tjahya Widayanti mengatakan, hingga saat ini baru ada 30 pasar yang memiliki SNI pasar rakyat. "Tahun ini kami berencana sertifikasi lima pasar. Memang kelihatannya kecil, tetapi proses melakukan SNI lima pasar memerlukan waktu," 

Sertifikasi SNI pasar rakyat baru diterbitkan sejak 2015 lalu. Dengan demikian, wajar jika hingga saat ini jumlah pasar yang mendapatkan sertifikat tersebut masih sedikit. Ada sekitar 40 komponen persyaratan yang harus dipenuhi sebuah pasar supaya mendapatkan SNI, mulai infrastruktur, jumlah toilet, kebersihan, pengelolaan sampah hingga tersedianya penitipan anak dan ruang ibu menyusui. SNI pasar rakyat diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pengelola pasar dalam mengelola dan memberdayakan komunitas pasar secara optimal dan profesional. Wartawan: kmj.
PRESIDEN BERIKAN PENGHARGAAN PENGELOLAAN PASAR RAKYAT TERBAIK



Rabu, 20 Feb 2019 - 16:33 WIB
Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Kemendag, Tjahya Widayanti mengatakan, Presiden Joko Widodo akan memberikan penghargaan bagi pengelolaan pasar rakyat terbaik. Penganugrahan pemenang bakal dilakukan melalui acara 'Pasar Rakyat Award'. Pemberian penghargaan dijadwalkan berlangsung pada kegiatan peresmian pasar rakyat yang rencananya juga dibuka Presiden di ICE BSD, Tangerang pada Maret 2019. "Pasar Rakyat Award diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada pengelola pasar yang telah mengelola dan mengembangkan pasar rakyat dengan baik serta menyediakan barang kebutuhan masyarakat dengan harga yang terjangkau," 

Selain peresmian pasar dan pemberian penghargaan, akan dilakukan juga pemberian sertifikat kepada lima pasar yang telah mendapatkan SNI pasar rakyat 8152:2015 di 2018. "Dengan pengelolaan pasar rakyat yang semakin baik, maka pasar rakyat akan semakin kompetitif dan menjadi tempat yang nyaman bagi masyarakat untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari," Wartawan: Ilham Wibowo

Kamis, 21 Februari 2019

PENGELOLAAN SAMPAH - PEMDA PEROLEH DANA UNTUK KELOLA SAMPAH

Harian Kompas, Jum'at 22 Februari 2019

Pemerintah, tahun ini (2019), mulai mengalokasikan secara khusus dana bagi pemerintah daerah (pemda) untuk pengelolaan sampah. Dana insentif daerah selitar Rp. 10 triliun  dialokasikan untuk pemda dengan menggunakan parameter peran pemerintah daerah dalam pengelolaan sampah. Dana tersebut diambil dari dana transfer ke daerah dan Dana Desa 2019 yang totalnya mencapai Rp. 826,77 triliun. 

Hal itu disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Rapat Kerja Nasional Indonesia Bersih di Gedung Manggala Wanabakti, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Jakarta, Kamis (21/2/2019). Rakernas ini dihadiri oleh semua menteri dan kepala lembaga kecuali Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang diwakili oleh Wakil Menteri.

Rakernas membahas tanggung jawab pengelolaan sampah mulai dari pemda hingga pemerintah pusat melalui kementerian. Selain Kemenkeu, sembilan kementerian dan lembaga lain juga menyediakan solusi sebagai jalan keluar dari persoalan sampah.

"Hasil pertemuan tadi bagus karena semua rencana pekerjaan mengarah pada upaya mengatasi persoalan sampah" kata Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya Bakar.

Untuk mengatasi persoalan pengelolaan tempat pembuangan akhir (TPA) yang sudah menggunung, misalnya, Kementerian Perindustrian memaparkan tentang ekonomi sirkuler dan memberikan contoh penggunaan sampah sebagai bahan baku. Pengumpulan sampah dari publik yang selama ini menjadi masalah diberi solusi dengan dana dari negara.

Sementara itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat segera melihat lokasi di daerah yang dapat dijadikan TPA. KLHK memetakan TPA mana yang sudah tinggi timbunannya. 

Langkah selanjutnya yang harus segera dikerjakan adalah menyusun pedoman yang akan dikerjakan oleh KLHK. Pedoman ini amat penting sebagai panduan bagi daerah-daerah untuk melakukan operasionalnya. Sebab, persoalan sampah selama ini dipandang  sebagai cost centre (menghabiskan dana) bagi daerah.

Pengelolaan sampah tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan juga semua elemen masyarakat. Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) setiap tanggal 21 Februari diharapkan terus menggerakkan dan mengingatkan semua elemen masyarakat akan tanggung jawab tersebut.

Kemarin (21/02/2019), HPSN diperingati di kabupaten/kota dengan berbagai kegiatan, terutama dengan membersihkan sampah. Di Banten, setelah upacara HPSN di TPA Cilowong, Kota Serang, sekitar 350 peserta upacara yang terdiri dari polisi, TNI, dan pegawai negeri sipil langsung membersihkan sampah di Pasar Lama. 

Di Palangkaraya, aparat kepolisian dari Direktorat Polisi Air dan Udara Polda Kalimantan Tengah bersama puluhan siswa SMA Negeri 2 Palangkaraya membersihkan Sungai Kahayan. "Kegiatan ini dilakukan serentak di setiap sungai di Kalteng yang melewati 14 kabupaten/kota. (Direktur Kepolisian Air dan Udara Komisaris Besar Badarudin. Diharapkan kegiatan ini bisa menginspirasi masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan. 

Di Kupang, kegiatan bersih-bersih sampah menjadi agenda rutin Gubernur Nusa Tenggara Timur dan aparat pemerintah setiap Jum'at dan Sabtu. Kegiatan ini terutama dilakukan di jalan-jalan, ruang publik, dan pasar tradisional. Kota Kupang termasuk salah satu kota terkotor di Indonesia versi KLHK pada akhir tahun 2018. 

Untuk membatasi masalah sampah, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, mempunyai material recovery facility atau fasilitas pemilahan sampah non-organik sejak dua tahun yang lalu. 
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SAMPAH-PLTSa (Perpres Nomor 35 Tahun 2018)

Harian Kompas, Selasa, 19 Februari 2019
* PLTSa Pengolahan sampah menjadi energi listrik berbasis teknologi ramah lingkungan yang 
   memenuhi baku mutu dan dapat mengurangi volume sampah secara signifikan serta teruji.

* Lokasi pembangunan PLTSa DKI Jakarta, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan, Kota 
   Bekasi, Kota Bandung, Kota Semarang, Kota Surakarta, Kota Surabaya,  Kota Makassar, Kota 
   Denpasar, Kota Palembang, dan Kota Manado.

* Progres pembangunan:
   - PLTSa Benowo, Surabaya (2015)
   - Peletakan batu pertama di TPST Bantar Gebang, DKI Jakarta (21/3/2018)
   - Revitalisasi TPA Sarbagita Suwung (September 2018)
   - Peletakan batu pertama di TPA Jatibarang, Kota Semarang (9/11/2018)
   - Uji coba di TPA Sumur Batu, Kota Bekasi (5/2/2019) 

 
PENGOLAHAN SAMPAH JABODETABEK
Harian Kompas, Selasa, 19 Februari 2019


Kota Tangerang
1.400 ton/hari*
TPA Rawa Kucing
Sanitary landfill dan pengembangan PLTSa.
Luas area TPA 35 hektar.

DKI Jakarta
6.500/hari*
TPST Bantargebang
Pengolahan sampah proses termal PLTSa
Luas area TPST 110,3 hektar

Kota Bekasi
1.500 ton/hari*
TPA Sumurbatu
-   Landfill gas flaring dan instalasi pengolahan air sampah.
-   Uji coba PLTSa 
Luas area TPA 21 hektar.

Kabupaten Tangerang
1.500 ton/hari*
TPA Jatiwaringin
Open dumping
Luas area TPA 20 hektar.

Kota Tangerang Selatan
300 ton/hari*
TPA Cipeucang
Sanitary landfill
Luas area TPA 15 hektar

Kota Bogor
500 ton/hari*
TPA Galuga
Sanitary landfill
Luas area TPA 17,0 hektar
 
Kabupaten Bekasi
750 ton/hari*
TPA Burangkeng
open dumping
Luas area TPA 11,8 hektar

Kota Depok
750 ton/hari*
TPA Cipayung
Rencana penerapan (tahun 2020) landfill mining (mereduksi sampah yang sudah tertimbun)
Luas area TPA 10,8 hektar.

Kabupaten Bogor
2.650 ton/hari*
TPPAS Lulut Nambo
Mechanical biological treatment, mengubah sampah menjadi refused derived fuel.
Luas area TPPAS 55 hektar.

Catatan:
Estimasi produksi per hari: rata-rata volume sampah per hari per orang dikali dengan jumlah 
    penduduk   

Sumber: Litbang Kompas/ERN/XNA/PUT, diolah dari BPS, pemberitaan Kompas, Perpres Nomor 
              35 tahun 2018, dari berbagai media.

PENGELOLAAN SAMPAH - MAKIN BAIK, TETAPI BELUM MEMADAI
Kompas, Selasa, 1 Februari 2019

Pengelolaan sampah di kawasan perkotaan Jabodetabek diakui telah menunjukkan kemajuan. Kepedulian semua pihak, dari warga hingga pemerintah dan pihak swasta, makin tinggi. Adopsi teknologi dilakukan agar pengolahan sampah makin efektif. Namun, sejauh ini terobosan yang dilakukan baru memtik sedikit sukses. Masalah besar sampah masih jauh dari selesai.

Hari Peduli Sampah diperingati pada Kamis (21/2/2019). Hari itu tepat 14 tahun pasca-longsornya bukit sampah Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat, yang menewaskan lebih dari 130 orang. Kejadian itu membuka mata tentang pentingnya pengelolaan sampah yang tepat, terutama realisasi pengelolaan sampah yang ramah lingkungan serta aman bagi masyarakat.

Di Ibu Kota, kini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menggenjot pembenahan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang miliknya yang berada di Kota Bekasi . Selain itu, pembangunan pengolahan sampah di dalam kota atau intermediate treatment facility (ITF) juga ditargetkan segera terealisasi.

Di kota Tangerang, sampah dari rumah tangga dan pasar diangkut serta dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Rawa Kucing, Kedaung Wetan, Neglasari, Kota Tangerang, Banten. Tempat ini sudah ada sejak tahun 2003, tetapi baru tertata mulai tahun 2014.

Awalnya lahan di TPA hanya 20 hektar, lalu dikembangkan menjadi 32 hektar setelah dilakukan pembebasan lahan (Kepala Unit Pelaksanaan Teknis-UPT Rawa Kucing, Diding Sudirman dan Kepala Tata Usaha UPT TPA Rawa Kucing, Marsan-Senin, 18/2).

Kota Tangerang boleh berbangga dengan TPA-nya itu. Sekitar 15 ha dari total luas lahan untuk tempat penampungan sampah, 2 ha untuk penghijauan, 7 ha untuk pusat pembangkit listrik tenaga sampah, serta sisanya untuk pemrosesan akhir sampah, seperti pembuatan kompos, kolam air lindi dan resapan, juga pembibitan.

Pada tahun 2014 dan 2015 kawasan TPA ini mulai ditata dengan menghadirkan taman. Sekarang, kawasan ini hijau rindang, dan sejuk. Tidak kotor, tidak kumuh, dan tidak bau lagi. Enak dipandang mata.

Pemerintah Kota Tangerang juga menjadikan TPA Rawa Kucing sebagai tempat wisata da rekreasi. Pada tahun 2018, jumlah pengunjug dalam seminggu mencapai 4.000 orang.    

Di Kota Bekasi, sejak kontrak pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di  TPA Sumur Batu ditandatangani pada tahun 2016, pembangkit akhirnya melalui uji coba. Uji coba pembangkit listrik dilakukan nonstop dari Selasa (5/2) hingga Rabu (6/2) Uji coba dihadiri oleh perwakilan dari Dinas Lingkungan Hidup,Laboratorium Daerah, dan PT Nusa Wijaya Abadi sebagai pengembang PLTSa. Pihak laboratorium daerah mengambil hasil uji coba untuk menilai kelayakan operasional alat dan keamanan lingkungan.
Bebaerapa aspek dalam uji coba itu melebihi ekspektasi. Sebagai contoh, sampah digunakan 3,3 ton per jam, melampaui target yang besarnya 2,3 ton sampah per jam. Dalam uji coba selama 24 jam itu, berhasil memproduksi lisrik 1,5 megawatt (Presiden Direktur PT. Nusa Wijaya Abadi, Tenno Sujarwanto). 

Sukses kecil ini masih butuh pembuktian selanjutnya untuk dapat memastikan bisa tidaknya realisasi program PLTSa dilakukan.

Depok dan Tangsel
Langkah maju para tetangganya ternyata belum berpengaruh pada kota Depok. Pada tahun 2018, Depok gagal meraih Piala Adipura, karena sistem buruk pengelolaan sampah di TPA Cipayung. Tahun ini Depok berkoordinasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk pembinaan mekanisme pengelolaan sampah di Cipayung.

Selama ini TPA Cipayung masih menggunakan sistem open dumping atau pembuangan tanpa perlakuan lebih lanjut. Padahal, Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah mengharuskan rehabilitasi TPA terbuka atau opern dumping menjadi controlled landfill (sampah dipadatkan) atau sanitary landfill (sampah diuruk). TPA Cipayung juga sudah masuk kategori melebihi kapasitas. (Kepala UPT TPA Cipayung, Ardan Kuriawan).

Pengelolaan TPA Cipeucang, Jalan Kapling Nambo, Serpong, Kota Tangerang Selatan, Banten juga masih tertinggal.Sejauh pengamatan. di awal Ferbruari 2019, kawasan TPA Cipeucang tidak terawat baik. Kesan kumuh, kotor, dan bau melekat dari TPA tersebut. Ada sedikit perubahan di kawasan itu, seperti taman di bagian depan dan tembok yang membatasi kawasan perkantoran dengan lahan kosong di depannya.  Menurut rencana, di lahan kosong depan ini akan dibangun PLTSa. Diharapkan secepat mungkin segera dibangun agar persoalan sampah di Tangsel teratasi.

Tidak sembarang orang yang bisa masuk ke tempat penampungan sampah di Cipeucang. "Hanya petugas dan truk yang bisa masuk ke dalam. Harus minta izin dahulu ke UPT. Pintu masuk dijaga oleh tiga orang . Setiap truk masuk tidak terlihat mereka harus menimbang sampah yang dibawa. Petugas hanya mencatat dan truk masuk. Dalam sehari ada sekitar 90 rit truk sampah masuk ke TPA ini. Truk mengangkut sekitar 300 ton sampah yang belum diolah dan dipisahkan. Sampah dari 54 kelurahandi tujuh kecamatan.

Selama ini TPA Cipeucang tidak maksimal untuk dapat menampung 800 ton per hari sampah rumah tangga dan industri yang tertampung hanya sekitar 300 ton per hari. (Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang Selatan, Toto Sudarto).

Sembarangan 
Tangerang Selatan memang masih berkutat dengan sampah yang tidak terkelola. Salah satunya terlihat di kawasan rel kereta api, dekat Stasiun Sudimara, Jombang, Ciputat. Kawasan ini sudah berpuluh tahun menjadi tempat pembuangan sampah tidak resmi. Menurut warga setempat, selama ini tidak ada petugas yang mengangkut sampah di tempat itu karena terkendala akses jalan.

Jarak lokasi sampah dari Stasiun Sudimara sekitar 400 meter ke arah Serpong. Area pembuangan memanjang mencapai 200 meter. Tinggi sampah mencapai 1 meter dengan lebar 10-15 meter. Di titik itu terdapat palng pengumuman dari PT Kereta Api Indonesia (KAI), " Dilarang mebuang sampah di sekitar jalur kereta api. 
MAGOT MENGATASI SAMPAH ORGANIK

Ester Lince Napitupulu
Harian Kompas, Kamis, 21 Februari 2019

Tahun 2009 Melta Rini Fahmi (42) bersama peneliti asal Perancis Saurin Hem mendapatkan paten internasional untuk penelitian magot buat pakan ikan di Indonesia. Rini dikenal sebagai peneliti di bidang genetika molekuler. Kini, dia lebih banyak disebut sebagai peneliti magot

Magot memang belum dikenal secara luas. Bahkan, magot lebih dipahami oleh masyarakat awam sebagai belatung menjijikkan serta sumber penyakit. Padahal, magot mempunyai banyak manfaat, salah satunya mengatasi masalah sampah yang bisa menambah nilai ekonomis.

Secara tegas, Rini mengatakan magot berbeda dengan belatung. Magot merupakan larva serangga Hermetia illucens atau lebih dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF). Sementara yang lazim dikenal sebagai belatung atau dalam bahasa Inggris maggot, merupakan larva serangga Diptera (Haasbroek, 2016). 

Belatung untuk sebutan larva housefly atau lalat rumah berperan sebagai vektor penyakit. Sebaliknya, magot sebagai agen perombak atau kompos material organik yang dalam waktu singkat dapat meningkatkan kesuburan tanah

Rini mempopulerkan nama magot untuk membedakan larva BSF dengan belatung. " Supaya tidak lagi salah, akhirnya saya pakiai saja sebutan larva  BSF dengan magot (hanya satu g) supaya orang paham bedanya dengan belatung" kata Rini.

Meskipun di Indonesia magot belum dioptimalkan dalam skala industri ataupun untuk pengelolaan sampah, Rini tak menyerah. "Hati nurani saya tidak bisa diam ketika mengetahui pelaku industri yang bergerak di magot ada banyak kendala yang perlu dukungan kebijakan dari pemerintah. Saya selalu mengajak para pelaku di industri magot untuk berhimpun membentuk asosiasi agar pemerintah bisa melihat potensi magot untuk Indonesia," papar Rini.

Rini menyambut gembira inovasi magot yang akhirnya didukung untuk masuk skala industri melalui kegiatan insentif inovasi industri Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Magot untuk pakan ikan sudah diluncurkan sebanyak tiga jenis, yaitu Magfree (untuk pertumbuhan ikan), Magkrispy (pakan ikan induk), dan MagGranul (pakan benih ikan).

Tidak sengaja
Rini mengisahkan tertarik meneliti magot berawal dari identifikasi yang keliru. Pengembangan magot sebenarnya tidak disengaja. Ini dimulai dari adanya kerjasama penelitian Indonesia-Perancis untuk mengembangkan pakan ikan alternatif pada tahun 2005. 

"Peneliti asing yang bekerjasama dengan kami bilang mau mencoba pakan ikan dengan memproduksi belatung yang disebutkannya maggot. Penelitian pun mengarah ke sana. Yang meneliti sampai muntah-muntah karena bau busuk dari bangkai", tutur Rini.

Penelitian untuk menghasilkan magot, yang semula disebut belatung, awalnya dikembangkan dari bungkil kelapa sawit yang ketika itu harganya rendah sehingga tak dimanfaatkan. Bungkil kelapa sawit pun difermentasi dengan bakteri yang diambil dari hewan ruminansia untuk mendegradasi bungkil. Akan tetapi cara itu tidak berhasil.

Bungkil yang difermentasi pun terlupakan lama. Para peneliti tertarik lagi untuk melihat bungkil karena penasaran dengan burung yang mematok bungkil. Ternyata di bungkil itu banyak belatung. "Peneliti Perancis itu bilang, ini yang dia cari yang pernah ditemuinya di Afrika," kata Rini.

Belatung pun ditunggu hingga menjadi serangga. Rini membawa serangga untuk diidentifikasi di Institut Pertanian Bogor, tetapi belum pernah ada pihak yang melakukan riset dengan serangga tersebut.

"Penelitian tentang serangga Hermetia Illucens (lalat tentara hitam) sudah ada saat itu di dunia. Namun, belum ada yang sampai pada memanfaatkan untuk menghasilkan pakan ikan. Di Indonesia sudah bisa produksi masal magot untuk pakan. Karena itulah diajukan paten internasional. Kebetulan dapat dukungan dari Perancis," kata Rini.    

Penelitian soal magot sempat terhenti karena Rini melanjutkan kuliah doktor dan kemudian riset di Perancis. "Sebenarnya saya enggak enak jika ditulis kepakaran tentang magot. Lama-lama kepakaran saya di bidang genetika molekuler semakin hilang," ujar Rini smbil tertawa.

Rini memiliki publikasi ilmiah internasional di bidang genetika molekuler dan pengajar di beberapa perguruan tinggi negeri. Risetnya di bidang genetika molekuler juga punya dampak besar pada pemetaan distribusi ikan sidat secara molekuler pertama di Indonesia dan DNA barcoding ikan-ikan dari lahan gambut.

Pada tahun 2013, Rini menghidupkan kembali penelitian magot yang sempat mati suri. Namun, dia mengalihkan pengembangan magot ke sampah organik yang selalu tersedia dan lebih murah. 

"Sampah organik ini masih punya nutrisi yang bisa dimakan untuk ikan dan ternak lainnya. Dengan biokonversi memakai telur serangga BSF, sampah yang menggunung lebih mudah diubah menjadi magot dan kompos. Jadi, sekaligus mengatasi masalah lingkungan," kata Rini yang kemudian kembali mematenkan metode kultur larva BSF secara nasional.

Rini mengatakan, masalah pakan ikan yang mahal sering dikeluhkan pembudidaya ikan. Rini pun tertantang untuk mengembangkan magot sebagai pakan ikan yang murah dan bernutrisi tinggi.

Uji coba berjalan di Balai Riset Budidaya Ikan Hias di Depok bekerjasama dengan Pemerintah Kota Depok. Sampah organik dikirim ke balai untuk dijadikan makanan magot. Dalam hitungan hampir dua minggu, gunungan sampah organik ludes. Magot bisa dipanen untuk menjadi pakan ikan, baik yang masih hidup maupun diolah. Sisa sampah menjadi kompos yang halus. Meskipun menjadi tempat pembuangan sampah organik, lingkungan sekitar balai tidak bau.

"Di dunia global, soal lingkungan, termasuk terkait sampah, mejadi perhatian. Saya merasa, bekerja ramai-ramai itu enak. Peneliti tidak masanya bekerja sendiri, tetapi bekerjasama dengan banyak pihak termasuk industri. Sebagai peneliti, saya merasa bahagia jika hasil riset saya membuat orang lain lebih baik dan bahagia," kata Rini.

Rini berharap semakin banyak peneliti yang berpartisipasi dalam pengembangan magot. Potensi magot bukan hanya untuk pakan ikan, melainkan bisa juga untuk peternakan dan pertanian. Selain tentu saja untuk pengelolaan sampah yang ramah lingkungan dengan investasi yang lebih murah.

"Saya berharap inovasi ini lebih cepat sampai ke masyarakat dan berdampak signifikan.Pemerintah juga semestinya mulai memartabatkan masyarakatnya untuk mendukung pengelolaan sampah dengan biokonversi yang memanfaatkan magot," kata Rini.  . . 
 
Meita Rini Fahmi

 Lahir          : 11 Juni 1976
Pendidikan::
- S 1 Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB (1999)
- S 2 Aquatic Science IPB (2004)
- S 3 Departemen Biologi IPB (2013)

Paten:
- Paten internasional produksi serangga hidup mini larva dan digunakan untuk pakan ikan (Rini dan  
  Saurin Hem)
- Paten nasional metode kultur larva BSF untuk agen biokonversi sampah organik dan pakan ikan 
  (Rini dan Urip)

Penghargaan:
- Peneliti Terbaik lingkup Kementerian Kelautan dan Perikanan (2007)
- Satya Lencana Wirakarya dari Presiden RI (2017):