Minggu, 20 Juli 2014

PAGUYUBAN PEDAGANG MITRA KERJA PENGELOLA PASAR TRADISIONAL

Dalam pengelolaan pasar tradisional milik Pemerintah Daerah peran paguyuban pedagang sangatlah penting, karena keterbatasan pihak pengelola pasar, terutama dalam hal keterbataaan jumlah personil dan dana.Namun di kebanyakan pasar tradisional di daerah-daerah peran paguyuban pedagang masih kurang dioptimalkan. Bahkan kedudukan paguyuban pedagang belum dianggap sebagai mitra kerja dan masih diposisikan yang lebih rendah dibanding posisi pihak pengelola pasar. Di beberapa pasar tradisional, peran paguyuban dalam pengelolaan pasar sudah sangat maju, seperti dalam hal pengelolaan kebersihan melalui pengelolaan Bank Sampah dan pembuatan kompos, keamanan,dan pengelolaan toilet. Peran ini sebenarnya sudah memperingan tugas pihak pengelola pasar, hanya saja di banyak daerah dalam menjalankan perannya paguyuban pedagang masih dibiarkan berjalan sendiri sehingga para pedagang menganggap kehadiran pihak pengelola hanya sebatas menyediakan tempat berdagang yang harus diimbali dengan pembayaran restribusi pasar.

Paguyuban pedagang yang mampu mengelola pasar tradisional dibentuk dan berkembang dalam waktu yang cukup lama. Paguyuban pedagang yang berkembang menuju kedewasaan melalui proses dalam waktu lama, dan proses ini dapat berlangsung lebih cepat di pasar-pasar tradisional di daerah perkotaan. Hal ini karena pemikiran para pedagang yang sudah maju, seperti mereka sudah mempunyai kesadaran tentang pentingnya berorganisasi untuk mendapatkan kemudahan, keamanan dan kenyamanan dalam berdagang di dalam pasar. Sedangkan di pasar-pasar tradisional di daerah kabupaten/kota kecil, untuk membentuk dan mengembangkan paguyuban pedagang yang nantinya sanggup diajak berperan sebagai mitra kerja pihak pengelola pasar dalam pengelolaan pasar tradisional diperlukan pendampingan yang intensif dan waktu yang lebih lama. Masalah di sini yang muncul dalam pembentukan dan pengembangan paguyuban pedagang ialah ketika pihak pengelola pasar tradisional tidak memahami tentang pentingnya paguyuban pedagang sebagai mitra kerjanya dalam pengelolaan pasar atau sebenarnya mereka sendiri tidak paham tentang cara pembentukan dan pengembangan paguyuban pedagang sehingga pada akhirnya pihak pengelola cenderung menjadi apatis.

Ada tiga peran yang dimainkan oleh paguyuban pedagang, yaitu: 1. Memfasilitasi aspirasi pedagang dalam penyelesaian masalah-masalah yang terkait dengan aktivitas perdagangan pasar. 2. Mengembangkan kegiatan para pedagang untuk mendapatkan kesempatan yang lebih luas dalam peningkatan kesejahteraan hidupnya. 3. Memediasi kemungkinan kerjasama antara para pedagang dengan pihak lain (sesama pedagang dalam pasar yang sama, dengan kelompok pedagang di pasar lain, pemasok/distrbutor, kelompok pengguna/pelanggan, instansi terkait) yang sifatnya saling memperkuat kemandirian dan atau produktivitas para pedagang anggota paguyuban dan pihak lain mitra pedagang.

Ketiga peran dasar paguyuban pedagang di muka, yang pertama berperan dalam penyelesaian masalah di antar pedagang dan antara pedagang dengan pihak pengelola pasar dan atau pihak-pihak lain yang ada di pasar. Kedua berperan dalam mengembangkan kegiatan pedagang seperti mengupayakan perbaikan tempat usaha dan pelatihan pedagang serta mengupayakan kebersihan, keamanan dan kenyamanan tempat berdagang agar jumlah pembeli pasar meningkat. Ketiga berperan sebagai penghubung dengan pihak-pihak lain sebagai mitra pedagang, seperti para pemasok, lembaga keuangan dan kelompok pembeli. Ketiga peran yang dimainkan oleh paguyuban pedagang apabila benar-benar mampu dijalankan oleh paguyuban pedagang, maka pihak pengelola pasar dalam mengelola pasar tradisional akan banyak terbantu. Pasar-pasar tradisional di beberapa kota seperti di Surakarta di mana pasar tampak terkelola dengan baik terutama dari segi kebersihan, keamanan dan kenyamanan karena memilki paguyuban pedagang yang cukup maju yang mampu dijadikan mitra kerja dalam pengelolaan pasar bagi pihak pengelola.Oleh karena itu, untuk dapat memajukan pasar tradisional perlu dilakukan pembentukan dan pengembangan paguyuban pedagang di samping juga membenahi kemampuan manajemen pihak pengelola pasar, sehingga kemitraan di antara kedua belah pihak benar-benar merupakan sinergisitas yang bisa mewujudkan kondisi pasar tradisional menjadi lebih baik.      
PERAN PAGUYUBAN PEDAGANG DALAM PENGELOLAAN PASAR TRADISIONAL

Di kebanyakan pasar tradisional terutama yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah pengelolaan pasar tradisional belum banyak melibatkan paguyuban pedagang.Adanya potensi paguyuban pedagang yang masih terpendam belum banyak disadari oleh pihak pengelola pasar, sehingga pengelolaan pasar tradisional di banyak daerah semuanya dilakukan sendiri oleh pihak pengelola.Di lain pihak, pihak pengelola mempunyai keterbatasan antara lain dalam hal jumlah personil yang terbatas dan ketersediaan anggaran dalam jumlah yang cukup.    

Paguyuban pedagang dapat diajak berperan dalam pengelolaan pasar tradisional, seperti dalam hal penanganan kebersihan melalui pengelolaan Bank Sampah dan pengolahan sampah menjadi kompos, penanganan keamanan dengan membiayai para petugas keamanan,pengelolaan toilet,dan membantu penyediaan dan perawatan sarana pasar.Kemampuan paguyuban pedagang dalam pengelolaan pasar dapat ditunjukkan oleh kerelaan para pedagang untuk menyediakan tenaga dan dana yang mereka kumpulkan.Potensi yang sudah dimiliki ini kemudian diwujudkan dalam bentuk kemampuan paguyuban tentunya setelah melalui proses berorganisasidan kepemimpinan di kalangan para pedagang.Oleh karena itu,yang pertama perlu dilakukan adalah pembentukan paguyuban pedagang dan mendorong paguyuban tersebut untuk tumbuh dan secara bertahap menunjukkan kemampuannya turut serta dalam pengelolaan pasar. 

Dalam pembentukan paguyuban pedagang hingga mereka berkembang diperlukan peran pengelola pasar.Memang di banyak pasar tradisional,paguyuban pedagang dapat terbentuk dan tumbuh tanpa banyak turut campur dari pihak pengelola pasar tradisional, sedangkan di banyak kota dan kabupaten keadaannya masih lemah. Di pasar di kota-kota besar paguyuban pedagang bisa berusaha sendiri untuk mengelola pasar setelah melihat dan mengalami sendiri bahwa kepedulian pihak pengelola pasar hanya sebatas menyediakan tempat berdagang dan para pedagang membayar imbalan berupa restribusi pasar. Sedangkan kebutuhan para pedagang seperti kebersihan dan keamanan di dalam pasar sepenuhnya merupakan kewajiban paguyuban pedagang untuk menanganinya sendiri.Pada situasi seperti ini pihak pengelola pasar menganggap bahwa para pedagang sebagai pengguna sudah seharusnya memenuhi kebutuhannya sendiri selain tempat berdagang yang sudah disediakan oleh pihak pengelola.

Membentuk paguyuban pedagang pasar bukan suatu yang sulit dilakukan, karena di banyak pasar tradisional milik Pemerintah Daerah keberadaan paguyuban pedagang tidak sulit untuk ditemui. Namun jika melihat lebih jauh apa peran paguyuban yang sudah terbentuk tersebut, maka tidaklah banyak ditemui yang sudah berperan aktif dalam pengelolaan pasar. Biasanya di pasar-pasar tradisional di kota-kota besar di mana para pedagangnya sudah mampu mengorganisasi diri, paguyuban pedagang yang ada sudah banyak berperan dalam pengelolaan pasar, tanpa banyak turut campur tangan pihak pengelola. Bahkan pihak pengelola pasar cenderung membiarkan mereka melakukannya sendiri (tanpa keinginann untuk banyak tahu tentang kegiatan paguyuban pedagang). Pihak pengelola pasar menganggap kedudukan paguyuban pedagang lebih rendah dibanding kedudukannya sendiri, di mana paguyuban hanya sekedar merupakan kumpulan para penyewa tempat berdagang yang tidak harus dilayani untuk mencapai kepuasan dalam memanfaatkan tempat berdagang. Ini terjadi karena para pedagang dianggap sudah disediakan tempat berdagang yang layak dan tidak boleh berdagang di sebarang tempat termasuk di jalan. 

Keadaan yang selama ini terjadi di banyak pasar tradisional milik Pemerintah Daerah di mana kedudukan para paguyuban pedagang belum dianggap sejajar dengan pihak pengelola pasar perlu diubah. Tentunya perubahan ini perlu dilakukan dengan mengubah pola pikir dan bertindak para pengelola pasar, dan setelah itu perubahan ini dibawa untuk menjadikan paguyuban pedagang sebagai mitra kerjanya dalam pengelolaan pasar tradisional.       

  

Selasa, 15 Juli 2014

MONETISASI LIMBAH PASAR TRADISIONAL

Dewasa ini sampah merupakan penyebab utama kekumuhan di semua pasar tradisional.Hanya sedikit pasar tradisional yang berhasil menjadikan sampah memiliki nilai jual,dan sekaligus sebagai salah satu sumber pendapatan.

Sampah atau limbah pasar dapat dijadikan sesuatu yang memiliki nilai jual jika di pasar tradisional dengan mengubahnya menjadi kompos dan atau dijual dalam bentuk limbah yang dapat diolah kembali. Untuk menjadikan limbah pasar tersebut kompos diperlukan kepedulian para pedagang yang sejak awal membuang sampahnya yang sudah dipilah- pilah menjadi dua jenis sampah, yaitu sampah organik dan sampah an-organik.Sampah organik inilah yang dijadikan bahan baku pembuatan kompos. Sedangkan sampah an-organik nantinya dapat dipilah-pilah kembali untuk dijual kepada pengepul limbah. Pemilahan sampah oleh para pedagang inilah menjadikan pengolahan sampah menjadi kompos lebih mudah dibanding memilah-milah setelah sampah dikumpulkan di tempat pembuangan sampah sementara (TPS). Agar sampah-sampah ini dapat terpilah-pilah,maka diperlukan tempat-tempat sampah yang terpisah antara tempat sampah organik (sampah basah) dan sampah an-organik (sampah kering).

Bagi limbah pasar yang dapat diolah kembali dapat ditangani melalui Bank Sampah yang biasa dikelola oleh Paguyuban Pedagang Pasar. Apabila jumlah limbah pasar an-organik ini jumlahnya tidaklah terlalu banyak, maka Bank Sampah dapat beroperasi setiap seminggu sekali atau dua kali. Apabila jumlah sampah tersebut cukup banyak, maka Bank Sampah dapat beroperasi setiap hari. Setiap pedagang yang menjual sampahnya ke bank, menjadikan secara otomatis pedagang tersebut adalah nasabah Bank Pasar. Setiap hasil penjualan, dicatat di buku tabungan milik setiap pedagang. Pencatatan pendapatan hasil penjualan tersebut merupakan pencatatan akhir pendapatan pedagang setelah dikurangi sejumlah tertentu untuk membiayai operasionalisasi Bank Pasar, seperti untuk pembayaran petugas Bank Sampah.Bank Pasar ini bekerjasama dengan para pengepul limbah yang siap menampung hasil penjualan limbah oleh para pedagang, sehingga harga pembelian limbah dari pedagang oleh Bank Sampah dapat mengikuti perkembangan harga pembelian oleh pengepul. 

Selanjutnya Bank Sampah ini bekerjasama dengan kalangan perbankan seperti Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang menerima setoran setiap hasil penjualan limbah pasar dari pedagang sebagai tabungan di BPR. Sehingga di sini setiap pedagang yang menjadi nasabah Bank Sampah juga merupakan nasabah BPR. Kemudian para pedagang dapat menjadikan tabungan tersebut untuk membiayai kewajiban pedagang dalam berdagang, seperti membayar restribusi, dana kebersihan dan keamanan yang pembayarannya dilakukan melalui BPR dengan mendebet tabungan di bank tersebut. Sudah barang tentu, apabila jumlah tabungan setiap pedagang dari pendapatan hasil penjualan limbah pasar sudah cukup besar untuk membiayai kewajiban-kewajiban tersebut. Dengan cara seperti ini penggunaan uang kartal di pasar oleh pedagang guna membiayai kewajiban pedagang menjadi berkurang. Di lain pihak, restribusi yang dibayarkan oleh para pedagang melalui pendebetan tabungan mereka, diterima oleh Dinas (SKPD) Pemerintah Kabupaten/Kota yang membidangi pasar tradisional melalui transfer dari BPR ke rekening instansi tersebut di bank lain.Monetisasi ini juga dapat dilakukan dalam penjualan kompos dari Unit Pengolahan Sampah kepada pihak lain, misalnya Koperasi Produsen Pertanian melalui transfer dari BPR ke bank lain di mana koperasi tersebut menjadi nasabannya. Kemudian pendapatan hasil penjualan sampah yang dibayarkan oleh Bank Sampah ke pada para petugas juga dilakukan dengan memasukkannya ke buku tabungan setiap petugas Unit Pengolahan Sampah. Akumulasi dari pendapatan ini merupakan tabungan bagi yang bersangkutan yang dapat dipakai, misalnya apabila di pasar tersebut terdapat Koperasi Pasar untuk berbelanja atau membayar berbagai kewajiban sebagai anggota koperasi dengan mendebetnya dari tabungan yang bersangkutan. Penjualan limbah sampah dari Bank Sampah ke para pengepul juga dapat dilakukan dengan melalui transfer antar bank di mana masing-masing pihak menjadi nasabahnya.

Monetasi sampah ini, di samping dapat mengurangi pengguanaan uang kartal dan membiasakan para pelaku di pasar dengan penggunaan layanan perbankan dan yang lebih penting adalah mengurangi sampah di pasar. Pada akhirnya modernisasi pasar tradisional dapat diwujudkan dengan langkah-langkah yang cukup sederhana dan bukan hal yang sulit untuk diterapkan di setiap pasar tradisional, dengan hanya bermodalkan kemauan dan keterlatenan hal ini dapat diterapkan.               

Senin, 18 Maret 2013

GAMBAR PASAR-PASAR TRADISIONAL DI SELURUH DUNIA

Gambar Pasar-pasar Tradisional ini diambil dari koleksi gambar-gambar pasar dan toko-toko tradisional milik Bapak Berman Hutagalung, Konsultan Manajemen Ritel dan Widyaiswara PUSDIKLAT Kementerian Perdagangan. Dengan melihat gambar-gambar tersebut diharapkan dapat memberikan wawasan kepada pemirsa blog Pasarku Pasar Tradisional tentang pasar-pasar tradisional di berbagai negara dan dapat membandingkannya dengan keadaan pasar-pasar tradisional di Indonesia.








Sabtu, 16 Maret 2013

KAPAN PELANGGAN TIDAK MENINGGALKAN PEDAGANG PASAR TRADISIONAL

Kepuasan Pelanggan
Ditinggalkannya para pedagang tradisional oleh pelanggannya yang setia perlu dicermati, karena untuk dapat mempertahankan keberadaan pasar tradisional perlu diketahui penyebabnya mengapa para pelanggan cenderung meninggalkan para pedagang pasar tradisional, dimana sebelumnya setiap kali berbelanja selalu membeli dari pedagang yang bersangkutan.

Kesinambungan kepuasan pelanggan terhadap pedagang ritel merupakan indikator penting bagi kinerja pedagang ritel tersebut yang ini diharapkan mampu merangsang maksud untuk berlangganan, membeli ke pedagang tersebut secara terus menerus. Namun perlu diperhatikan bahwa kepuasan pelanggan dalam perilaku berbelanja di pedagang ritel, bukanlah jaminan untuk mendapatkan pelanggan yang benar-benar setia (loyal) terhadap pedagang tersebut.

Beberapa studi mengemukakan bahwa para pelanggan dapat saja berpindah-pindah dalam berbelanja dari pedagang yang satu ke pedagang yang lain, walaupun sebenarnya mereka sudah terpuaskan ketika berbelanja di salah satu pedagang. Dengan perkataan lain mereka bukanlah pembelanja yang loyal, karena dengan mudahnya mereka berpindah-pindah dalam berbelanja. Pada kondisi ini, para pembelanja yang telah menjadi pelanggan salah satu pedagang merasa tidak tertarik lagi untuk berbelanja ke pedagang yang biasa dikunjunginya dengan beberapa alasan, seperti pedagang yang bersangkutan selalu menyajikan barang dagangan yang itu-itu saja atau monoton, tidak ada perubahan dari waktu ke waktu, membosankan. Pelayanan yang membosankan tanpa adanya variasi layanan baru bepotensi dapat menghilangkan ketertarikan para pelanggan untuk berkunjung dan berbelanja ke pedagang tersebut. (Halim dan Ismaeni) Hanya para pelanggan yang benar-benar tradisional dalam berbelanja, biasanya orang-orang tua yang sejak muda berdomisili di sekitar pasar, biasanya tidak merasa bosan dengan perilaku pedagang di pasar itu yang monoton dalam berjualan.

Berdasarkan penelitian Lembaga Penelitian SMERU (Suyadama et.al, 2007) terhadap pasar-pasar tradisional di kawasan Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi serta Bandung diperoleh informasi bahwa pesaing terberat dari para pedagang pasar tradisional adalah sesama pedagang di dalam pasar, kemudian diikuti dengan berturut-turut supermarket dan para Pedagang Kaki Lima (PKL). Dapat diduga bahwa kebanyakan para pedagang tradisional di satu pasar saling bersaing satu sama lain, masing-masing cenderung monoton dalam penataan dagangan, sehingga menjadi tidak menarik lagi dihadapan para pedagang yang sekarang cenderung berperilaku dinamis dalam berbelanja. Sedangkan para PKL, sekalipun dalam menata dagangannya lebih tidak menarik lagi, namun mereka lebih diuntungkan yaitu tempat mereka berdagang di luar sekitar pasar lebih mudah dijangkau para pembeli, sehingga para pembeli tidak perlu masuk ke dalam pasar, bahkan dapat langsung berbelanja langsung dari atas kendaraannya. Keadaan ini semakin diperkuat  oleh keadaan pasar tradisional yang tidak nyaman untuk mereka kunjungi.

Namun dugaan paling kuat, berdasarkan penelitian Lembaga Penelitian SMERU para pelanggan pasar tradisional lebih banyak beralih ke pasar moderen yaitu supermarket. Peralihan lokasi belanja ini tidak dapat dipungkiri, kini di kalangan masyarakat perkotaan telah terjadi perubahan perilaku belanja, yang seringkali sekaligus juga berekreasi bersama keluarga. Sudah barang tentu tingkat kenyamanan dan kebersihan lokasi serta tersedianya fasilitas lain, seperti tempat parkir yang luas, tempat bermain anak-anak, salon kecantikan dan gunting rambut serta restoran turut berperan dalam mendorong terjadinya perubahan perilaku berbelanja ini.

Tampaknya meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat perkotaan, menimbulkan tututan kualitas kehidupan termasuk kualitas dalam melakukan aktivitas dalam berbelanja. Di lain pihak, kondisi kebanyakan pasar tradisional dari waktu kewaktu cenderung tetap tidak berubah, sehingga sudah tidak bisa lagi  mengikuti perubahan perlaku berbelanja sebagian masyarakat perkotaan yang pada akhirnya yang terjadi adalah sebagian dari para pelanggan pedagang pasar tradisional beralih berbelanja ke tempat lain termasuk supermarket.

Harga Murah
Kebanyakan konsumen yang masih setia berbelanja di pasar-pasar tradisional karena harga barang-barang yang dijual masih lebih murah dibanding dengan harga-harga di tempat lain. Para pembelanja kaum perempuan biasanya menghabiskan hampir sebagian besar waktu berbelanjanya hanya untuk tawar menawar. Agaknya kebiasaan tawar menawar sudah merupakan bagian dari kenikmatan hidup mereka, baik bagi para penjual maupun pembelanja dalam melakukan aktivitas jual beli di pasar-pasar tradisional. Kesempatan tawar menawar yang pada akhirnya menghasilkan harga murah tidak dijumpai jika berbelanja di pasar-pasar moderen yang semua harganya merupakan harga pas (fixed price) tidak boleh ditawar.

Masih dimungkinkannya tawar menawar tersebut, dalam prosesnya dapat menimbulkan rasa curiga di antara para pedagang tradisional, seperti yang pernah alami di pasar tradisional di satu kabupaten di Jawa Tengah, di mana pasar tersebut baru saja selesai di renovasi. Salah satu tuntutan dari para pedagang di pasar tersebut pada saat sedang direnovasi ialah agar lapak-lapak antar pedagang diberikan batas dinding dengan tinggi secukupnya. Adapun sebagai alasannya ialah apabila sedang tawar menawar dengan pembelinya tidak terdengar oleh pedagang tetangga di sebelahnya. Sehingga di sini informasi harga tidak bersifat terbuka atau tidak transparan di antara para pedagang.

Ada kebiasaan yang sebaliknya di suatu pasar tradisional di kota Solo yang justru menyebarluaskan informasi harga yaitu indikasi harga barang-barang utama kebutuhan pokok yang dijual oleh para pedagang pasar tersebut dengan menyajikannya di papan informasi harga harian. Informasi tentang indikasi harga ini sangat membantu para pembelanja, terutama bagi para pembelanja yang masih asing yang sangat jarang atau baru pertama kali berbelanja di pasar tersebut. Bagi para pedagang sendiri, hal ini tidak menimbulkan persaingan tidak sehat yang disertai dengan rasa curiga di antara mereka. 

Membangun Rasa Emosional
Masih bertahannya para pembeli tidak beralih berbelanja dari pasar-pasar tradisional ke pasar-pasar moderen karena masih adanya rasa emosional di antara para pedagang dengan para pelanggannya. Di sini para pedagang pasar yang mampu menarik pelanggannya antara lain dengan membangun rasa emosional, maka tidak akan takut kehilangan para pelanggannya berpindah berbelanja ke pedagang lainnya termasuk berpindah berbelanja ke pasar moderen.  Dalam membangun rasa emosional, biasanya para pedagang tersebut berusaha memelihara hubungan kekeluargaan dengan para pelanggan, di samping memberikan layanan istimewa kepada para pelanggannya itu seperti harga yang bersaing serta ketersediaan barang yang dijamin kepastiannya dan sudah barang tentu kualitas barangnya cukup layak menurut para pelanggan. 

Hubungan emosional yang terbangun di antara para pedagang dengan para pelanggannya inilah yang menjadi salah satu daya tarik pasar tradisional yang masih terjaga di tengah-tengah persaingan dengan pasar-pasar atau ritel moderen.  Para pelanggan yang biasa berbelanja di pasar-pasar atau ritel moderen, biasanya mereka tidak mebutuhkan suasana yang membangkitkan rasa emosional, tetapi hanya lebih menekankan segi kepraktisan dan suasana kenyamanan berbelanja semata. Namun  demikian, dari sekian para pembelanja yang tinggal di wilayah perkotaan masih ada dari antara mereka yang mempertahankan rasa emosional dengan para pedagang pasar tradisional, dan inilah yang harus terus dipelihara agar pasar-pasar tradisional ditinggalkan oleh para pelanggannya tadi.

Apabila para pedagang di pasar-pasar tradisional mampu membangun perasaan emosional dengan para pelanggannya, di samping memiliki kualitas barang yang dijual cukup layak dengan tempat berjualan yang nyaman dan bersih tidak semrawut, maka pasar-pasar tradisional diyakini dapat bersaing dengan pasar-pasar moderen.  

RUJUKAN PUSTAKA
Halim, Rizal Edy dan Ismaeni, Fahrul, Analisis Pembentukan Ketertarikan Terhadap Rirel: Agenda  
                             Riset Bagi Revitalisasi Pasar Tradisional di Indonesia, Fakultas Ekonomi,
                             Universitas Indonesia.

Suryadarma, Daniel et.al. (2007), Dampak Supermarket terhadap Pasar dan Pedagang Ritel 
                             Tradisional di Daerah Perkotaan di indonesia, Lembaga Penelitian SMERU.

Rabu, 14 November 2012

PENGORGANISASIAN PEDAGANG PASARKU

Pedagang di pasar-pasar tradisional di berbagai daerah pada umumnya berusaha secara indiviual. Bahkan berdasarkan penelitian Lembaga Penelitian SMERU pada tahun 2007 di pasar-pasar tradisional di kawasan JABODETABEK (DKI Jakarta, Depok, Tangerang, Bogor) dan Bandung pesaing utama pedagang di pasar-pasar tradisional adalah sesama pedagang di pasar yang bersangkutan. Sehingga adanya persaingan ini, maka di antara sesama pedagang seringkali sulit menumbuhkan kepercayaan di antara mereka. Bahkan di lapangan, di suatu pasar di kota Klaten di Provinsi Jawa Tengan yang baru saja dibangun kembali, ditemui adanya permintaan sekat di antara lapak-lapak yang saling bertetangga yang dilontarkan oleh para pedagang dengan maksud agar apabila sedang dilakukan tawar menawar pedagang dengan pelanggannya, maka hal ini jangan sampai terdengar atau diketahui oleh pedagang tetangganya. Karena apabila sampai terdengar, maka pedagang tetangganya tersebut dapat menentukan strategi harga yang diterapkan di kalangan pembeli. 

Persaingan yang disertai dengan taktik masing-masing pedagang yang berbau dengan rasa kecurigaan yang  menimbulkan kurangnya rasa percaya di antara sesama pedagang merupakan salah satu penyebab mereka cenderung berusaha secara individual, tidak teroganisir. Kelompok pedagang yang ada di pasar-pasar tradisional yang terbentuk secara tidak sengaja, hanya terdiri dari beberapa pedagang yang biasanya didasari hubungan emosional, seperti masih ada hubungan kekerabatan di antara mereka atau merasar berasal dari suatu daerah (desa, kampung). Di lain pihak, kegiatan usaha  dari para pedagang di pasar-pasar tradisional yang kondisinya stagnan dari waktu ke waktu, salah satu penyebabnya adalah akibat dari mereka yang tidak terorganisir.

Beberapa masalah yang muncul akibat tidak terorganisirnya para pedagang tradisional.adalah munculnya rinternir di pasar-pasar tradisional di berbagai daerah yang sudah jamak terjadi. Pengadaan barang dagangan (kulakan) yang tidak efisien sperti membeli sendiri-sendiri dalam jumlah yang relatif kecil yang harganya berbeda-beda di antara pedagang sekalipun mereka membeli dari pemasok atau lokasi yang sama. Para pemasok yang berposisi sebagai oligopoli memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat dibanding dengan para pembelinya, para pedagang pasar tradisional yang jumlah individunya lebih banyak.

Selanjutnya, para pedagang pasar tradisional yang tidak terorganisir dalam berusaha, hampir dapat dipastikan mereka sulit memenuhi pembeli tunggal yang membeli dalam partai besar, cenderung melayani dalam partai eceran. Sebagai contoh, pasar Keranggan di kota Yogyakarta terkenal dengan kekhasan barang dagangan kue-kue basah. Apabila pembeli (misal pegawai kantor yang ditugasi membeli makanan kecil yang dihidangkan pada saat kantornya mengadakan pertemuan) berkeinginan membeli beberapa jenis kue basah dengan volume pembelian cukup besar, maka pembeli tersebut harus melakukan transaksi dengan beberapa pedagang agar jenis dan volume kue basah yang diinginkannya terpenuhi dan diharapkan mendapatkan harga yang sama untuk masing-masing jenis kue  dari setiap pedagang yang melayaninya. Hal ini tentu pembeli yang bersangkutan memerlukan upaya yang cukup besar dan waktu yang lama. Lain halnya, apabila penjualan kue basah oleh para pedagang tersebut teroganisir, sehingga para pembeli dapat terlayani dengan memuaskan. Lebih baik lagi, apabila para pedagang dapat terorganisir dalam paguyuban pedagang yang menerapkan pelayanan prima kepada para pembelinya. Para pembeli cukup mengangkat telepon untuk melakukan pemesanan dan kemudian pesanan tersebut diantar oleh pihak paguyuban pedagang yang melayaninya. Bahkan paguyuban tersebut dapat menerapkan cara "jemput bola' yaitu mendatangi langsung para calon pembeli di tempatnya dengan membawa brosur dan contoh kue basah agar calon pembeli dapat melihat dan merasakannya. Apabila calon pembeli tersebut memutuskan membeli untuk jenis kue basah dan volumenya, maka informasi ini segera diteruskan kepada paguyuban pedagang untuk disiapkan jenis kue dengan jumlah sesuai dengan permintaan. Pembayaran dapat dilakukan melalui tranfer kerekening bank paguyuban pedagang. 


Pengembangan kehidupan berorganisasi di kalangan para pedagang tradisional sudah merupakan suatu keniscayaan, apabila  memang kita semua menghendaki peningkatan kegaiatan usaha para pedagang tradisional di tengah-tengah gempuran pasar-pasar moderen yang berkembang pesat. Di sini diperlukan upaya langsung di tengah-tengah para pedagang untuk membangkitkan kesadaran berorganisasi dan menghilangkan rasa ketidakpercayaan di antara sesama pedagang pasar. Memang mudah untuk berwacana dan sulit melaksanakan upaya yang konkrit untuk mewujudkannya. Namun penulis berpendapat dengan niat yang besar, maka keinginan dari berbagai individu yang berkembang untuk memajukan pasar-pasar tradisional dapat disatukan dan penulis bersedia dengan tulus untuk turut membantu mewujudkannya. Mari kita wujudkan bersama, pasti bisa.

Selasa, 06 November 2012

KEPALA DAERAH YANG PEDULI PASARKU

Tidak banyak Kepala Daerah yang peduli terhadap pasarku. Untuk dapat melihat kepedulian Kepala Daerah, maka perlu diperhatikan beberapa hal sebagai berikut:

Pertama, kebijakan Kepala Daerah yang bersangkutan yang peduli terhadap pasar tradisional tercermin pada: Peraturan Daerah (PERDA) beserta peraturan dan pedoman pelaksanaannya yang substansinya lebih bersifat penataan, pembinaan dan perlindungan pasar tradisional ketimbang mengatur retribusi. Dengan perkataan lain, tidak memposisikan pasar tradisional sekadar penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui retribusi yang dikumpulkan melalui pedagang, tetapi merupakan tempat yang sengaja disediakan oleh Pemerintah Daerah di mana masyarakat dapat berbelanja dan berjualan guna memenuhi kebutuhan hidupnya.

Kedua, Kepedulian Pemerntah Daerah terhadap pasar tradisional tercermin pada bentuk organisasi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) yang membidangi atau membina pasar tradisional setingkat Eselon II, karena kompleksitas permasalahan dalam pengelolaan pasar tradisional yang memerlukan kewenangan pembina yang cukup tinggi. Di sini, dalam pengelolaan pasar tradisional memerlukan koordinasi dengan SKPD terkait, seperti dalam hal penyusunan anggaran, pemungutan retribusi, penanganan parkir, kebersihan, keamanan dan ketertiban, kesehatan dan lingkungan hidup, bangunan pasar, tata ruang dan wilayah, serta pedagang dan konsumen. Hal yang krusial adalah penanganan Pedagang Kaki Lima di mana PKL merupakan pesaing utama para pedagang pasar tradisional terutama yang berdagang di sekitar pasar. SKPD yang membidangi pasar sudah seharusnya juga menangani PKL di mana sedikit demi sedikit PKL yang berjualan di sebarang tempat di daerah perkotaan pada akhirnya dilokalisasi di suatu daerah yang khusus yang memang diperuntukkan untuk penampungan PKL sehingga mereka diubah menjadi pedagang yang menetap, tidak lagi berpindah-pindah. Sebagai contoh, di kota Solo penanganan PKL dilakukan oleh Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) yang memindahkan PKL di Banjarsari ke Semanggi (Pasar Notoharjo) tanpa kekerasan. Selain itu juga memindahkan PKL di jalan sekitar pasar ke Pasar Gading dan Pasar Nusukan. Pemindahan PKL ke pasar tradisional memerlukan upaya pembinaan lanjutan, karena diperlukan merubah perilaku PKL yang biasanya kurang peduli dengan penataan dagangan dan kebersihan lingkungan menjadi pedagang pasar yang harus patuh terhadap tata tertib pedagang.

Ketiga, kebutuhan anggaran operasional pengelolaan pasar tradisional biasanya melebihi retribusi yang dipungut dari pedagang. Bagi daerah yang peduli terhadap pasar tradisional, maka kebijakan Kepala Daerah tentang pasar tradisional di daerahnya adalah meletakkan fungsi pasar sebagai unsur pelayanan kepada masyarakat, baik konsumen maupun pedagang. Pasar tradisional merupakan "cost centre" daripada "profit centre". Sehingga sudah sewajarnya dialokasikan anggaran yang cukup memadai bagi operasionalisasi pasar-pasar tradisional di daerahnya sebagai upaya melayani kebutuhan masyarakat yang secara makro ekonomi dapat menekan laju inflasi dan meningkatan pendapatan masyarakat.

Keempat, kebijakan memberdayakan pengelola dan pedagang pasar tradisional. Kebanyakan Kepala Daerah masih belum memperhatikan pemberdayaan pengelola dan pedagang pasar tradisional di deerahnya. Pengorganisasian dan peningkatan kapasitas para pengelola pasar belum dilakukan, ditandai dengan diterapkannya Sistem Prosedur dalam Pengelolaan Pasar, dan para petugas pasar masih bekerja seadanya tanpa pedoman kerja baku. Demikian pula pengawasan terhadap terselenggaranya aktivitas di pasar pada umumnya sangat lemah. Sebagai contoh, seringkali terjadinya kebakaran pasar tradisional yang biasanya akibat hubungan arus pendek karena kabel-kabel listrik yang tidak pernah dikontrol dan akibat kompor meledak karena para pedagang yang memasak makanan di dalam pasar luput dari pengawasan. Demikian juga sampah yang berceceran di pasar merupakan cerminan tidak adanya sistem prosedur penanganan kebersihan. Belum adanya sistem prosedur ditambah terbatasnya jumlah petugas dan lemahnya kepemimpinan (leadership) Kepala pasar merupakan penyebab utama lemahnya pengelolaan pasar-pasar tradisional yang dikelola oleh Pemerintah Daerah. Demikian juga pemberdayaan para pedagang pasar tradisional  di daerah pada umumnya belum dilakukan, karena kebijakan Kepala Daerah belum pernah menyentuhnya. Pemberdayaan pedagang pasar-pasar tradisional dapat dilakukan dengan memberikan pelatihan dan pendampingan antara lain pelatihan tentang manajemen ritel dan manajemen keuangan sederhana. Di Pasar Kranggan, kota Yogyakarta, pedagang mendapatkan pelatihan dan pendampingan melalui Sekolah Pasar yang diinisiasi oleh Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan, Universitas Gadjah Mada. Kementerian Perdagangan juga melakukan pemberdayaan pedagang pasar tradisional di 10 pasar  percontohan di mana pasar-pasar tersebut sebelumnya telah direvitalisasi bangunannya. Kementerian Perdagangan melalui Pusat Pendidikan dan Pelatihan (PUSDIKLAT) juga memberikan pelatihan kepada para pengelola pasar dan pedagang pasar tradisional di Solo dan Balikpapan, di mana pada tahun 2011 penulis terlibat di dalamnya. Berdasarkan pengamatan penulis terhadap daerah yang melakukan program pemberdayaan pasar tradisional (pengelola dan pedagang) pada tahun 2010 dan 2011, hanya Kepala Daerah Kota Surakarta (Walikota Solo) melibatkan diri secara langsung, baik dalam saat berlangsungnya pelatihan maupun sesudahnya melalui monitoring dampak pelatihan. Bahkan Wakil Walikota Solo turut mengajar pada sesi awal pelatihan.

   Walikota Solo (Bp. Jokowi) se-
   dang menyampaikan arahan ke-
   para peserta pelatihan mana-  
    jemen perpasaran, Nopember 
   2011.











Wakil Walikota Solo (Bp. FX. Hadi Rudyatmo) turut mengajar tentang manajemen mutu terpadu pengelolaan pasar tradisional, 2011.